Akhlak Nabi Muhammad SAW Sebagai Teladan Pendidikan Karakter

  • Ditulis oleh Mansur, S.Pd.I *
  • Rabu17 Apr 2013
    jam 11 : 02
  • kategoriKhazanah
  • dibaca23057 x

Nabi Muhammad SAW adalah seorang manusia pilihan yang patut dicontoh dan diteladani dalam kehidupan sehari-hari. Dalam Al-Qur’an beliau mendapatkan sebutan “Uswatun Hasanah” (suri tauladan yang baik). Sedikit demi sedikit Nabi Muhammad SAW membangun masyarakat dengan cara menanamkan akhlak mulia dan beriman hanya kepada Allah SWT.

Hal tersebut terkait dengan misi beliau yang diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW yang Artinya “Sesungguhnya aku diutus Allah SWT, untuk menyempurnakan (memperbaiki) akhlak manusia”. (HR. Ahmad). Dengan keluhuran budi dan akhlak yang mulia, akhirnya beliau berhasil membawa amanah yang dititipkan oleh Allah SWT untuk mensyiarkan Islam ke seluruh penjuru dunia ini, guna memberi kabar gembira serta membawa keselamatan hidup bagi umat manusia di dunia dan bahkan sampai di akhirat kelak. Hal itu sangatlah bermanfaat bagi seluruh umat manusia dan makhluk lain penghuni alam semesta ini, sebagaimana firman Allah SWT yang artinya “Aku (Allah) tidak mengutus Kamu Muhammad, kecuali menjadi rahmat (membawa keselamatan) bagi sekalian manusia di alam ini.” (Q.S. Al Anbiya : 107)

Konsep dan keyakinan tentang kebajikan (husnul ‘amal) membuat manusia sebagai mahluk yang berbeda dari mahluk lain di muka bumi bahkan di alam semesta ini. Kebajikan akan terwujud dalam karakter baik (akhlak mahmudah). Tanpa karakter yang baik, manusia kehilangan segala-galanya, terutama akan kehilangan kemanusiaanya sebagai fitrah yang di amanahkan oleh Allah SWT. Pendidikan yang berorientasi pembangunan karakter sangat diperlukan dalam rangka mengembangkan dan menguatkan sifat mulia kemanusiaan, agar manusia yang sering mengaku sebagai  mahluk tertinggi di muka bumi ini tidak terpeleset jatuh menjadi mahluk yang tidah manusiawi bahkan lembih tersesat dan lebih rendah dari binatang yang paling hina sekalipun. Oleh karenanya dibutuhkan sosok contoh dan teladan yang “haq” yang harus dipatuhi dan diikuti, tiada  lain sosok itu ialah penghulu para Nabi dan rasul yakni Nabi Muhaamad SAW sebagai teladan bagi kita semua.

Para ahli mendefinisikan karakter itu antara lain sebagai berikut : Quraish shihab menyatakan bahwa Karakter merupakan himpunan pengalaman, pendidikan, dan lain-lain yang menumbuhkan kemampuan di dalam diri kita, sehingga alat ukur yang mewujudkan pemikiran, sikap dan perilaku antara lain akhlak mulia dan budi pekerti luhur, sedangkan Imam Ghozali :  Akhlak Karakter merupakan Sifat yang tertanam / menghujam di dalam jiwa dan dengan sifat itu seseorang secara spontan dapat dengan mudah memancarkan sikap, tindakan dan perbuatan, sedangkan Yayasan Jati Diri Bangsa menjelaskan: Karakter merupakan Sistem daya juang / dorong yang menggunakan nilai-nilai moral yang terpatri dalam diri kita (perpaduan aktualisasi potensi dari dalam dan internalisasi nilai moral dari luar) yang melandasi pemikiran, sikap dan perilaku   (Moetojib : 29 - 30)  . Dari definisi yang telah diuraikan tadi maka dapat disimpulkan bahwa karakter itu ialah pancaran jati diri seseorang yang mencerminkan ”sifat Tuhan” artinya bertuturkata dan bersikap dengan baik (berakhlak mahmudah) agar ridha Tuhan kita yakni Allah ta’ala selalu benyertai.

Keteladanan Nabi Muhammad dapatlah dijadikan inti dan sumber pembelajaran pendidikan karakter karena pada substansinya pendidikan karakter itu ialah berperilaku atau bersikap dan bertata krama yang baik dan tidak melanggar norma-norma yang berlaku yang kesemuanya itu telah di contohkan oleh sang baginda Nabi kita Nabi Muhammad SAW.

Sebagai pendidik maka kita selayaknya menjadi teladan bagi anak didik kita, baik dalam ucapan maupun dalam bersikap karena yang kita didik adalah makhluk Tuhan yang masih bersih dan masih suci sehingga sangat mudah mengarahkan mereka menjadi manusia yang manusiawi, terbiasa melakukan hal-hal yang positif yang di sukai oleh Tuhan Rabbul ‘alamin. Disini kita dituntut membiasakan anak didik kita bersikap dan berakhlak sesuai dengan apa yang di teladani oleh Nabi Muhammad SAW yakni akhlak mahmudah. Dalam sebuah kitab kecil yang bernama mahfuzod didebutkan “mansyabba ‘ala syaiin Syabba ‘alaih” artinya barang siapa terbiasa dengan sesuatu maka terbiasalah ia. Jadi membiasakan diri sejak dini maka akan selalu terbiasa melakukan apa yang sering di lakukan, ingatlah meluruskan pohon yang masih kecil dipastikan bisa lurus namu meluruskan pohon yang sudah tua maka bisa dipastikan juga akan patah, artinya menanamkan karakter positif pada usia dini itu akan lebih memungkinkan berhasil dari pada setelah tua yang lebih sulit mendapatkan hasil. Oleh karena itu mebiasakan peserta didik dengan hal-hal yang baik maka hasilnya tidak sebatas di lingkungan sekolah atau tempat proses pembelajaran berlangsung namun out-put nya setelah selesai pun masih akan mereka kerjakan sampai mereka selesai sekolah. Umpamanya, jika peserta didik selalu dibiasakan mengucapkan salam tehadap sesama siswa atau kepada Bapak atau Ibu guru di lingkungan sekolah, itu artinya kita telah menanamkan nilai karakter yang baik pada peserta didik yakni berupa sifat tasammuh artinya saling menghormati dan menghargai dengan sesama. Maka, kebiasaan itu dipastikan akan mereka bawa sampai di luar sekolah bahkan saking biasanya setelah selesaipun akan mereka lakukan hal itu. Masih banyak karkter-karakter lainnya jika kita gali ajaran-ajaran Nabi Muhammad SAW sebagai pedoman hidup kita. Maka, dibutuhkan kesungguhan kita sebagai pendidik dan bagi peserta didik untuk menggali, mengkaji dan mempelajari karakter positif yang di teladani oleh Nabi Muhammad SAW dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari baik di lingkungan sekolah maupun lebih-lebih di luar sekolah.

Sebagai pengikut dan juga sebagai ummat Nabi Muhammada SAW, maka perlu penulis mengajak kita semua untuk merenungi, meresapi serta mengamalkan firman Allah dalam surat Al Fath ayat 29 berikut ini yang artinya: "Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan Dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. kamu lihat mereka ruku' dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud "

Nabi Muhammad SAW adalah Rasul Allah. Beliau merupakan sosok manusia biasa, sama halnya dengan manusia pada umumnya. Namun, yang membedakanya ialah Nabi Muhammad SAW mendapat hidayah Allah berupa Kenabian dan KerasulanNya untuk menjadi tauladan dalam prilaku hidupnya dan panutan dalam ajaran risalahnya. Mencermati firman Allah SWT dalam surat al-Fath ayat 29 tadi, maka setidaknya ada 4 (empat) ciri yang nampak pada pengikut Nabi Muhammad SAW, yaitu :

1. Asyidda-u 'alal-kuffar (keras terhadap orang-orang “kafir”), maksudnya bahwa pengikut Muhammad itu adalah orang orang yang senantiasa keras pendirian dan tegas kebijakannya terhadap orang-orang kafir. Ungkapan kata KAFIR adalah melekat pada sifat, yang sama halnya dengan kata mukmin dan munafik - bukan pada benda atau simbol suatu keyakinan seperti agama. Jadi bisa saja ada orang yang beragama Islam tetapi memiliki sifat kafir atau munafik.

2. Ruhama-u bainahum (Berkasih sayang bersama mereka), maksudnya bahwa pengikut Muhammad itu saling mengasihi. Dalam teks ayat-ayat al-Quran, Allah Swt. menyebutkan untuk hubungan yang baik itu dengan kata RAHIMA yang artinya kasih sayang, bukan dengan kata HUBBUN yang berarti cinta, karena cinta itu pasti pilih hati dan dapat saja ditinggalkan. Akan tetapi kasih sayang harus senantiasa dipelihara dan wajib hukumnya bagi setiap makhluk Allah. Sungguh, cinta itu hanya sampai pada hubungan persahabatan saja, sedangkan kasih sayang sampai pada hubungan persaudaraan. Cinta lebih dekat dengan nafsu, sedangkan kasih sayang sangat dekat dengan pengabdian, kepedulian, dan toleransi.4

3. Tara-hum rukka'an sujjada (Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud), maksudnya bahwa pengikut Muhammad itu senantiasa ruku’ dan sujud dalam artian tunduk dan taat terhadap aturan Allah Swt. Dengan menyembah kepadaNya. Perbuatan tunduk, taat dan menyembah itu dilakukan oleh pengikut Muhammad untuk mengharapkan ridha Allah Swt. semata.

4. Siima-hum fi-wuju-hihim min atsaris-sujuud( tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud), maksudnya bahwa nampak pada  muka orang-orang yang mengikuti Nabi Muhammad SAW itu adalah keteguhan iman, kesucian hati dan kearifan berfikir.

Keempat ciri sifat pengikut Nabi Muhammad SAW tersebut di atas dapatlah di kategorikan sebagai karakter yang baik karena ada kaitannya dengan hablumminannas dan hablumminallah. Namu apabila kita pandang dengan kondisi kita saat ini, maka kita dapat merenungkan kembali akan diri kita masing-masing. Dalam hal bersikap  tegas terhadap orang-orang kafir bukan diwujudkan dalam bentuk perang atau tindakan anarkis dan merusak kehidupan mereka. Sikap keras ini haruslah kembali pada hakekatnya, yaitu mengikuti sifat dan suri tauladan yang telah di contohkan oleh Nabi Muhammad SAW sehingga pendidikan karakter benar-benar terlaksana di dalam dan luar sekolah dengan sesama muslim ataupun dengan non-muslim. Sikap kasih sayang terhadap sesama makhlukpun senantiasa harus kita membiasakan diri sehingga akan selalu tercipta suasana damai, rukun, saling menghargai dan saling menghormati dengan sesama manusia maupun makhluk Tuhan lainnya.

Menjadi tanda tanya bagi kita ialah sudahkah kita menjadi orang yang dapat digolongkan sebagai pengikut Nabi Muhammad SAW atau belum, atau bahkan bertentangan dengan sifat dan sikapnya ?. Inilah yang mungkin patut untuk kita renungkan masing-masing. Siapapun kita dan apapun profesi atau pekerjaan kita, masih terbuka bagi kita untuk merubah pola pikir dan pola tindakan kita untuk mencoba mengikuti jejak Nabi Muhammad SAW dan para pengikutNya agar pendidikan karakter yang dicanagkan bisa tercapai dengan efektif dan efesien insyaallah, amin ya mujibassailin !!!...

* Penulis adalah Guru Agama Islam di SMPN 1 Praya Timur, Kabupaten Lombok Tengah, provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB).  Facebook : Ansoursasaky, Twitter : @anssoursasaky