LOMBOKita Hari Ini

Grid List

LOMBOKita - Tim Buru Sergap (Buser) Polres Lombok Timur meringkus tiga pelaku pencurian kendaraan bermotor (Curanmor) di Selong, Kamis (11/2/2016) dinihari sekira pukul 01.00 Wita. Tiga pelaku yang diringkus tersebut RE (17), SS (17) dan AS (25) warga Pancor.

LOMBOKita - Ketua Asosiasi Hotel Mataram Reza Bovier mengatakan okupansi hotel pada momen peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2016 mencapai 70,94 persen, jauh lebih tinggi dibandingkan periode awal tahun lalu rata-rata 40 persen. "Lama tinggal tamu hotel pada saat momen HPN mencapai 4 hari, kalau dibanding awal-awal tahun 2015, rata-rata lama tinggal tamu hanya 1,8 hari saja," kata Ketua Asosiasi Hotel Mataram (AHM) Reza Bovier di Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), Kamis (11/2/2016).

LOMBOKita- Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Lombok Timur (Lotim) tidak memiliki anggaran cukup besar untuk mendukung kegiatan pesta rakyat “Bau Nyale” tahun 2016 di Pantai Kaliantan Kecamatan Jerowaru yang akan diselenggarakan akhir Februari mendatang.

LOMBOKita – Institut Agama Islam Hamzanwadi (IAIH) NW Pancor Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB) membuka pendaftaran Kuliah Kerja Nyata Partisipasi (KKN-PAR) bagi mahasiswa semester VII sebagai bagian dari tugas akhir mahasiswa sebelum penyelesaian skripsi.

ghea

Berita Lainnya

Grid List

LOMBOKita - PT XL Axiata dan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mulai mengimplementasi kerjasama XmartCities Lombok dalam empat layanan digital yang baru. Semua layanan cukup inovatif dan unik, bahkan adalah yang pertama dilakukan di Indonesia. Keempat layanan tersebut adalah pemesanan pemakaman, pembayaran pajak kendaraan bermotor dengan XL Tunai, konten video dakwah bagi para ulama lokal, dan media komunikasi bagi panti asuhan.

LOMBOKita – Masyarakat Kabupaten Lombok Tengah kini harus bangga, karena salah satu puteri terbaiknya menjadi duta Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) di kancah nasional untuk memperebutkan gelar Puteri Indonesia Favorit Kepulauan 2016.

LOMBOKita - Gelaran kejuaraan daerah (Kejurda) karate antarpelajar se provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menyisakan sesal. Karena wasit dan panitia sering menuai protes dari sejumlah ofisial daerah. Bahkan ada yang menuding, wasit kurang sportif dalam menjalankan tugasnya.

Kejurda antarpelajar SD/SMP sederajat itu berlangsung di KONI Praya sejak 6 hingga 8 Februari 2016. Namun sejak awal pertandingan, seorang ofisial dari kabupaten Sumbawa terlihat bersitegang dengan panitia. Saat dimulainya pertandingan, panitia menginginkan ofisial tidak memasuki lapangan saat mempersiapkan atlit karatenya. Namun bagi si ofisial, kenapa aturan itu baru diterapkan, kenapa tidak saat tehnical meeting disampaikan. Akibatnya, “adu mulut” dan protes pun terjadi. “Saat tehnical meeting dong aturan disampaikan, kan tidak terjadi keributan seperti begini”, papar salah seorang ofisial.

Protes tidak hanya disampaikan kepada panitia. Wasit pun menjadi sasaran. Salah satu ofisisal dari kabupaten Lombok Timur melihat ada kecurangan wasit tengah. Saat berlangsungnya pertandingan Kata, sang ofisial tidak menginginkan atlitnya kalah karena keputusan wasit. Alasannya, gerakan, kuda-kuda, power maupun skill atlitnya jauh mapan ketimbang atlit lawan. Maka terjadilah keributan, protespun silih berganti. “Atlit saya dalam melakukan aksi Kata sedikitpun tidak goyang”, bela si ofisial. Namun akhirnya panitia memberikan solusi. Pihak ofisial harus menyediakan bukti rekaman ulang video pertandingan. Saat diperlihatkan bukti video, ternyata apa yang disampaikan ofisial benar adanya. Tapi bagi wasit tetap pada keputusannya. Pertandingan sempat dihentikan hampir satu jam lamanya. Akhirnya, panitia memberikan solusi. Kedua atlit Kata ini dinyatakan sama-sama didiskualifikasi. “Ya, lebih baik sama-sama KO” kata si ofisial kesal.
    
Akibat diduga kecurangan wasit, protes juga disampaikan salah satu ofisial dari kabupaten Lombok Tengah, Zainuddin. Seperti halnya atlit Kata dari Lombok Timur, Zainuddin pun protes, tidak rela atlitnya dikalahkan dengan alasan yang kurang masuk akal. Atlit asuhan Zainuddin dari kecamatan Kopang, Lalu Aden Fatwa Pati melakukan adegan Kata jauh lebih baik dari pada lawan. Namun anehnya, wasit yang memimpin pertandingan memutuskan kalah bagi Aden. Usut punya usut, ternyata wasit beralasan, dogie (baju) yang digunakan Aden, ada nama atlit di bagian punggung. Larangan ini juga bagian dari kekalahan atlit. Zainuddin tidak terima, aturan itu baru diterapkan, kenapa tidak saat technical meeting saja disampaikan. Ini satu keteledoran panitia, tanpa ada singkronisasi antara pertandingan dan technical meeting. Atas keteledoran ini, panitia meminta maaf, namun solusinya, tetap menjatuhkan pilihan, mendiskualifikasikan Aden.
    
Bagai jatuh ketimpa tangga, Aden pun mengalami hal yang sama saat melakoni pertandingan Komite. Kemenangan poin 4-2 bagi Aden. Karena sisa waktu di bawah 10 detik, Aden tidak melakukan fight, tapi mundur mengindari pukulan lawan. Namun apa keputusan wasit tengah? Aden yang berposisi AU dikalahkan dengan alasan tidak fight dan berputar mengulur waktu. Akibat ini, Zainudin pun berang, menuding wasit tidak sportif dalam mengambil keputusan. Wasit Amrullah yang memimpin pertandingan, tetap tegar kendati menerima umpatan dan cacian yang tidak mengenakkan.

Melihat relaitas ini, salah satu tim perwasitan NTB, Yan Febrani, S.Pd menuturkan, wasit dalam memutuskan pilihan harus obyektif, tidak memihak, serta keputusan sesuai data yang ada. Aturan pun harus mengacu pada aturan baku. Jangan beda aturan yang diberlakukan saat technical meeting dengan saat berlangsungnya pertandingan. Yan melihat, turnamen sebesar ini, dengan peserta lebih dari 750 orang, sebaiknya jangan di KONI Praya. “Kalau bisa gunakan GOR Turida,kan tidak kacau seperti ini”, kritik Yan. (pa)

LOMBOKita - Anggota Badan Legislatif DPR dari Fraksi Partai Demokrat, Jefirstson Riwu Kore dengan tegas menolak revisi UU KPK Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi karena tidak tepat dan justru akan melemahkan KPK dalam memberantas korupsi.